About Us
Yayasan Pondok Modern Interpreneur Al-Firdaus Soco
Pada tanggal 18 September 2023, sebuah impian besar untuk membangun lembaga pendidikan Islam akhirnya terwujud. KH. Agung Siswoyo, seorang ulama dengan kepedulian yang mendalam terhadap umat Islam, memulai langkah besar dengan mendirikan sebuah masjid di kawasan Soco. Masjid ini menjadi pusat ibadah bagi masyarakat sekitar sekaligus cikal bakal berdirinya pondok pesantren.
Namun, kegelisahan terus menggelayuti hati KH. Agung Siswoyo. Melihat keterbelakangan umat Islam dalam berbagai bidang, terutama di sektor pendidikan dan ekonomi, beliau merasa harus segera bertindak. Usia yang tidak lagi muda menjadi pemicu utama untuk bergerak lebih cepat. Keinginannya mendirikan lembaga pendidikan pun semakin kuat, tetapi satu tantangan besar menghadang: keterbatasan sumber daya manusia yang mumpuni.
Tidak menyerah pada keadaan, beliau memulai langkah konkret dengan membangun sarana fisik terlebih dahulu. Bangunan pertama didirikan di sebelah selatan masjid, sebagai tempat awal kegiatan pendidikan. Sembari itu, KH. Agung Siswoyo juga memikirkan bagaimana memperkuat sumber ekonomi pondok agar dapat berdiri kokoh dan mandiri dalam jangka panjang.
…pesantren harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam
KH. Eko Setiyawan, S.Pd — Pendiri Pondok
Motto Pondok
Motto ini menekankan pentingnya akhlak mulia dan karakter yang baik. Pondok ini mengutamakan pendidikan karakter yang kuat bagi para santrinya. Hal ini diwujudkan dalam berbagai kegiatan dan nilai-nilai yang ditanamkan sehari-hari, seperti kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan saling menghormati.
Dalam dunia entrepreneurship, berbudi tinggi mencerminkan etika bisnis Islam yang mengutamakan kejujuran (shidq), amanah, dan keadilan dalam transaksi. Seorang Muslim entrepreneur harus memiliki akhlak yang luhur dalam menjalankan bisnisnya, seperti tidak menipu, tidak mengambil keuntungan secara zalim, serta selalu memperhatikan kesejahteraan pelanggan dan mitra bisnis. Prinsip ini juga selaras dengan konsep ihsan dalam Islam, yaitu berbuat baik dan profesional dalam setiap usaha yang dilakukan.
Kesehatan fisik merupakan faktor penting dalam menunjang keberhasilan dalam belajar dan beraktivitas. Pondok ini menyadari hal tersebut dan menyediakan berbagai fasilitas olahraga serta kegiatan ekstrakurikuler yang mendukung kesehatan jasmani para santri. Selain itu, pola hidup sehat juga diajarkan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kesehatan fisik dan mental sangat penting bagi seorang entrepreneur Muslim. Dalam Islam, tubuh adalah amanah yang harus dijaga agar bisa beraktivitas secara optimal. Entrepreneur yang sehat akan memiliki energi dan daya tahan yang tinggi untuk menghadapi tantangan bisnis, berpikir jernih dalam mengambil keputusan, serta mampu bekerja dengan produktivitas tinggi. Selain itu, kesehatan juga mencakup aspek psikologis, seperti mengelola stres dan menjaga keseimbangan antara kerja, ibadah, dan keluarga.
Motto ini menekankan pentingnya memiliki wawasan yang luas dan terus mengembangkan diri melalui ilmu pengetahuan. Pondok ini menyediakan berbagai fasilitas dan program pendidikan yang memungkinkan para santri untuk belajar dan mengembangkan diri di berbagai bidang, baik akademik maupun non-akademik.
Seorang Muslim entrepreneur harus memiliki wawasan yang luas, tidak hanya dalam bidang bisnis tetapi juga dalam aspek agama, sosial, dan ekonomi. Pemahaman tentang fikih muamalah, manajemen keuangan syariah, tren pasar global, serta strategi bisnis sangat penting agar usaha yang dijalankan bisa berkembang secara berkelanjutan. Berpengetahuan luas juga mencerminkan sikap open-minded terhadap inovasi dan perkembangan teknologi, yang sangat diperlukan dalam dunia bisnis modern.
Motto ini mengandung nilai-nilai kemajuan dan keislaman yang menjadi landasan dalam berpikir dan bertindak. Para santri didorong untuk memiliki pemikiran yang terbuka, inovatif, dan selalu berusaha untuk menjadi lebih baik, namun tetap berpegang pada nilai-nilai keislaman yang luhur.
Berpikir maju dalam entrepreneurship berarti memiliki visi jangka panjang, berorientasi pada inovasi, dan mampu melihat peluang di masa depan. Namun, dalam konteks Muslim entrepreneur, pemikiran maju harus tetap berlandaskan nilai-nilai Islam, seperti prinsip halal dan thayyib, keseimbangan antara dunia dan akhirat, serta keberpihakan pada kebermanfaatan sosial (maslahah). Seorang Muslim entrepreneur harus mampu menciptakan bisnis yang tidak hanya menguntungkan secara materi, tetapi juga memberikan dampak positif bagi umat dan lingkungan.
Panca Jiwa Pondok Modern Interpreneur Al Firdaus Soco-Slogohimo-Wonogiri
Keikhlasan berarti melakukan segala sesuatu semata-mata karena Allah SWT tanpa mengharapkan pujian atau imbalan duniawi. Dalam konteks YPMI al-Firdasus, keikhlasan menjadi dasar dalam menuntut ilmu, mengajar, dan beramal. Santri dididik untuk berjuang dan beribadah dengan hati yang tulus, tanpa pamrih, sebagaimana prinsip dalam islam yang mengajarkan penyucian niat.
Dalam kontek interprenuer, seorang intrepreneur Muslim yang ikhlas akan menjalankan bisnisnya semata-mata karena Allah SWT. Tujuannya bukan hanya mencari keuntungan duniawi, tetapi juga untuk mendapatkan ridha Allah SWT dan memberikan manfaat bagi umat. Memulai bisnis dengan niat yang benar, yaitu untuk beribadah dan membantu sesama. Menjalankan bisnis dengan jujur, transparan, dan dapat dipercaya. Menyisihkan sebagian keuntungan untuk bersedekah dan membantu yang membutuhkan.
- Kesederhanaan mencerminkan cara hidup yang tidak berlebihan dan selalu merasa cukup dengan apa yang ada. Di pesantren, santri diajarkan untuk hidup sederhana dalam segala hal, baik dalam berpakaian, makan, maupun gaya hidup, sehingga mereka lebih fokus pada ilmu dan ibadah daripada kemewahan duniawi. Nilai ini juga menanamkan sikap qana’ah (merasa cukup) dan zuhud dalam kehidupan.
Dalam konteks interpreneur, Seorang intrepreneur Muslim yang sederhana tidak akan berfoya-foya dengan keuntungan yang diperoleh. Ia akan menggunakan harta dengan bijak dan tidak berlebihan. Tidak bermewah-mewahan dalam kehidupan sehari-hari. Menginvestasikan keuntungan untuk mengembangkan bisnis dan memberikan manfaat yang lebih besar. Menjauhi segala bentuk transaksi yang mengandung riba.
- Kemandirian dalam pesantren bermakna bahwa santri harus mampu mengandalkan diri sendiri, tidak bergantung pada orang lain dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Pesantren menanamkan nilai kerja keras, disiplin, dan tanggung jawab agar santri siap menghadapi tantangan hidup dengan kemampuan yang dimiliki. Nilai ini juga berkaitan dengan semangat entrepreneurship dan keberdayaan santri dalam berbagai bidang.
Dalam konteks interpreneur, Seorang intrepreneur Muslim harus mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Ia harus memiliki inisiatif dan kreativitas untuk mengembangkan bisnisnya. Terus berinovasi dan mencari cara baru untuk meningkatkan kualitas produk atau layanan. Tidak takut untuk mengambil risiko yang terukur dalam mengembangkan bisnis. Mampu menghadapi tantangan dan mencari solusi atas setiap permasalahan yang dihadapi.
Ukhuwah Islamiyyah berarti persaudaraan sesama Muslim yang dijalin atas dasar iman dan Islam. Dalam kehidupan pesantren, ukhuwah ini sangat ditekankan melalui kebersamaan dalam belajar, ibadah, dan kehidupan sehari-hari. Santri dilatih untuk saling menghormati, menolong, dan menjaga hubungan harmonis dengan sesama, mencerminkan ajaran Islam tentang solidaritas dan kasih sayang.
Dalam konteks interpreneur, Seorang intrepreneur Muslim harus menjalin hubungan yang baik dengan sesama pengusaha, karyawan, dan pelanggan. Ia harus saling tolong-menolong dan menghormati perbedaan. Membangun jaringan kerja sama dengan sesama pengusaha Muslim. Berlaku adil terhadap karyawan dan pelanggan. Peduli terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar.
- Kebebasan dalam konteks pesantren bukan berarti bebas tanpa batas, tetapi lebih pada kebebasan berpikir dan berekspresi dalam bingkai nilai-nilai Islam. Santri diajarkan untuk berpikir kritis, terbuka terhadap ilmu pengetahuan, dan bebas dalam mengembangkan diri selama tetap dalam koridor syariat Islam. Nilai ini menanamkan kemandirian intelektual dan keberanian dalam menyuarakan kebenaran.
Dalam konteks interpreneur, Seorang intrepreneur Muslim memiliki kebebasan untuk berkreasi dan mengembangkan bisnisnya, namun tetap harus bertanggung jawab dan tidak melanggar syariat Islam. Mengembangkan ide-ide kreatif dan inovatif dalam berbisnis. Mampu menyesuaikan diri dengan perubahan pasar dan teknologi. Bertanggung jawab atas segala tindakan yang dilakukan dalam menjalankan bisnis.
